Kembali Ke TPQ

Setelah satu tahun disibukkan dengan Pileg, saya kembali terjun di dunia TPQ. Tidak mengajar, saya memulai aktifitas di Badko.

Hujan masih deras, selepas kami menunaikan sholat Maghrib. Sore ini kami baru menyelesaikan  rapat persiapan wisuda TPQ  Kota , delegasi kecamatan. Sekaligus mempersiapkan kegiatan rapat kerja, pasca dilantik 4 hari sebelumnya.

Berlari-lari kecil kami , saya dan Mas Agus, Ketua Badko Kecamatan menuju warung HIK di komplek pasar belakang kecamatan. Kami melanjutkan pembicaraan yang sebelumnya telah kami awali di Mushola selepas sholat maghrib tadi.  Kami membicangkan semangat pengabdian guru2 TPQ, yang menurut bahasa Mas Agus: militan. ketulusan mereka dan penghargaan masyarakat atas apa-apa yang telah mereka perbuat.

Continue reading “Kembali Ke TPQ”

Anak Laki-laki dalam Bus

“Mbak saya numpang ya” anak itu berujar kepada kondektur BST yg berdiri dipintu.
“Mau kemana?” bapak di sebelah si anak mendahului jawab.
“Mau ke Puskesmas” jawab si anak.
“Biar sama Saya saja bayarnya” lanjut si Bapak.
“Terimakasih ya Pak…”

“Puskesmas mana?” tanya si bapak lagi
“Puskesmas gading. Mau Cari rujukan”
“Buat siapa?”
“Buat ibu. Sakit ginjal”
“Cuci darah berarti?”
“iya”

Saya mulai menyimak. Continue reading “Anak Laki-laki dalam Bus”

Parkir Teduh

Musik penutup sudah mengalun. Karyawan mulai berbenah menjelang tutup Toko. Hujan di luar masih deras. Orang berkerumun di serambi menanti hujan reda.

Pada titik ini, di tempat ini, saya selalu merasa bahwa lintasan mimpi2 saya sering berputar cepat. Semacam slide film. Hampir2 tampak jelas.  Tapi belakangan ini pula saya merasa, bahwa di tempat ini, dan di titik ini saya makin jauh berada dari mimpi-mimpi saya. Waktu yang terbuang, hari, jam, menit dan detik yang hilang. Dan saya mulai merasa lelah. Juga takut. Continue reading “Parkir Teduh”

Diniyyah Putri: Sekolah Agama Pertama Perempuan Indonesia

Hari ini, 89 tahun yang lalu sekolah pendidikan agama khusus perempuan pertama di Indonesia, bahkan mungkin dunia berdiri. Al Madrasatul Diniyyah/ Meisjes Diniyyah School, sekolah Diniyyah (agama) Putri didirikan oleh Rahmah El Yunusiyyah yang  kala itu baru  berusia 23 tahun.

Tentang Rahmah El Yunusiyyah

Rahmah el Yunusiyyah lahir pada  Jum’at 20 Desember 1900 di kanagarian Bukit Surungan Padang Panjang Sumatera barat.Beliau adalah adik dari  Zainuddin Labay El Yunusy, pendiri Diniyyah School, ulama muda pembaharu sistem pendidikan di Sumatera Barat. Dari kakaknya Zainuddin dan Muh. Rasyad,  Rahmah yang tak pernah mendapat pendidikan formal ini belajar menulis dan membaca tulisan arab dan latin. Pada masa kecilnya Rahmah terkenal sebagai  anak yg keras hati, berkemauan keras dan bercita-cita tinggi. Ketika Zainuddin mendirikan Diniyyah School, sekolah islam dengan  sistem modern, pada 1915, Rahmah ikut belajar di sana. Tidak cukup hanya belajar di Diniyyah School di pagi hari, Rahmah juga berguru  kepada Syaikh Abdul Karim Amrullah (Inyiak Haji Rasul), ayah dari Buya Hamka pada sore harinya. Selain Rahmah, ikut belajar di sini pula Rasuna Said, Nanisah dan Djawana Basyir. Continue reading “Diniyyah Putri: Sekolah Agama Pertama Perempuan Indonesia”