anak lakilaki yang tak ingin tertinggal sholat shubuh

Saya menemukan kisah ini di majalah Tarbawi edisi terbaru. Sebagimana di ceritakan oleh seorang ustadz *yang saya lupa namanya dalam bukunya *yang saya lupa judulnya (maklum saja, saya baca Tarbawi nya di Gramedia, mana sempat pula untuk menulis). Ah,…saya hanya ingin bercerita, ternyata saya jauh tertinggal dari anak itu…

+

Mata anak itu berbinar. Ia begitu terpesona atas apa yang disampaikan sang guru. Pada sebuah kelas, di sebuah sekolah dasar. Di depan kelas, sang guru bercerita. Tentang keutamaan sholat shubuh. Maka sang anak itu bertekad, ia akan melaksanakan sholat shubuh. Namun ternyata itu bukan hal yang mudah. Sholat shubuh bukan hal yang jamak di rumahnya. Tak ada yang sholat subuh di rumah itu.

Ia tak bisa berharap ada yang membangunkannya untuk bangun melaksanakan sholat shubuh. Satu-satunya hal yang mungkin adalah ia berjaga sepanjang malam. Maka ia kuatkan tekadnya untuk berjaga. Sepanjang malam ia berusaha agar matanya tak terpejam. Hingga adzan shubuh bergema, ia segera bangkit mengambil wudhu. Pelan-pelan ia buka pintu rumahnya. Namun persoalan lain muncul. Ternyata lokasi masjid cukup jauh dari rumah dan ia tak punya banyak keberanian untuk menembus gelapnya malam. Maka terduduklah ia dan mulai menangis, pelan tanpa suara. Hingga terdengar olehnya suara langkah kaki. Ternyata kakek dari temannya yang hendak berangkat menuju masjid. Timbullah keberaniannya. Perlahan ia ikuti sang kakek. Hal ini dilakukannya sepanjang pagi. Hingga berbulan bulan.

Datanglah berita duka, sang Kakek yang senantiasa ia ikuti langkahnya menuju masjid hari itu meninggal. Maka ia pun mulai menangis.

Ayahnya yang heran bertanya “mengapa engaku menangis, toh kakek itu bukan kerabat kita, bukan pula teman bermain mu?”

“seandainya yang mati ayah,…seandainya yang mati bukan kakek itu…” ucap sang anak setengah terisak, dan berulang kali ke hadapan sang ayah.

Maka sang ayah terkejut dan meminta sang anak untuk menjelaskan maksudnya.

“mengapa ayah tak seperti kakek itu. Mengapa ayah tak seperti orang-orang yang lain? Mengapa?” ujarnya

“lalu siapa lagi yang harus saya ikuti untuk berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat shubuh?” lanjutnya.

Maka ia pun mulai bercerita pada ayahnya, tentang apa yang dilakukannya selama hari-hari beberapa bulan belakangan. Tanpa terasa airmata sang ayah pun menetes dan sejak saat itu tak pernah lagi sang ayah meninggalkan sholat 5 waktu berjamaah.

+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s